![]() |
Secangkir kopi yang dibuatkan office boy, sudah tandas. Menandai kelegaan karena keputusan berhasil dibuat. Dhryan, sang pimpinan, beberapa waktu lalu sempat bingung. Ia harus memilih satu dari sekian banyak stafnya untuk dipromosikan menjadi pimpinan cabang. Setelah melakukan seleksi, akhirnya ia mendapat dua kandidat. Reiner dan Hilda.
Kedua kandidat itu sama pintarnya. Tentu saja nilai yang sama itu membuat Dhryan bingung. Ia pun memanggil Reiner dan Hilda secara bergantian. Mengobrol ini itu dan meminta masing-masing menyampaikan ide untuk mengembangkan perusahaan. Hasilnya :
- Hilda, terkenal sangat periang. Banyak bicaranya. Pimpinan mengeluarkan lima kata, Hilda bisa menjawab dengan puluhan kata. Ketawanya sangat lepas. Di kaca mata Dhryan, Hilda terlalu sering membetulkan rambutnya ketika berbicara. Meskipun 'banyak bicara' ternyata Hilda sangat gelagapan ketika harus menyampaikan ide. Terlihat tidak siap. Ketika Dhryan mengajaknya berjabat tangan, telapak Hilda basah. Mungkin ia grogi.
- Reiner pembawaannya lebih tenang. Meskipun dari luar, nampak pendiam, ternyata Reiner asyik juga ngobrolnya. Ia menceritakan tentang survey lokasi pabrik milik klien. Dhryan mengetahui Reiner tidak banyak bicara dalam keseharian, tetapi ternyata sekali Reiner bicara, caranya sangat menarik. Begitu pun ketika Reiner harus mempresentasikan ide. Dhryan bersemangat mendengarkan. Jabatan tangan Reiner pun mantap ketika berpamitan.
Jadi, siapakah yang dipilih Dhryan untuk mendapat promosi? Silahkan tulis jawaban sahabat di kolom komentar.
