Sunday, December 13, 2020

Ramah itu Mudah


   customer is a king

 

       Pernah menemui dokter yang tidak ramah? Pintar tetapi pelit bicara? Kita yang bertanya merasa sudah melakukan kesalahan yang membuat dokter itu enggan menjawab pertanyaan. Pernah bertemu dengan penjual yang juga seolah merasa terganggu dengan kedatangan kita sebagai customer? Mungkin juga pernah bertemu dengan staf satu instansi yang membuat kita seolah-olah orang paling cerewet atau paling bego sedunia? Padahal yang kita tanyakan adalah pertanyaan yang standar. 


    Teman-teman, yuk kita instropeksi. Apakah kita cukup ramah ketika menghadapi customer atau pelanggan kita? Apakah kita cukup menganggap penting mereka yang datang ke toko atau outlet kita?Apakah kita sudah cukup menghargai mereka yang datang kepada kita? Ada banyak pilihan dokter, dokter hewan, psikolog, apotek, toko buku dan segala macam. Jadi, ketika ada customer yang datang kepada kita, itu sudah satu rejeki yang luar biasa. Mereka memilih kita dari ratusan pilihan. Tentu saja akan sangat sayang jika kita tidak menghargai mereka. 


    Menjadi ramah itu sangat mudah. Hanya memerlukan sedikit energi untuk tersenyum. Cukup meluangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan, memastikan mereka mengerti. Pada kenyataannya, kemampuan public speaking tidak hanya harusditerapkan pada saat kita memegang mikrofon atau sedang berpresentasi atau juga sedang berbicara di atas panggung. Kemampuan ini juga sangat bisa kita terapkan ketika menghadapi customer, pasien, murid dan mahasiswa dan siapa saja yang menjadi rekan bicara kita. Bahkan seorang dokter hewan pun dituntut untuk ramah ketika menghadapi seekor hewan yang menjadi pasiennya. 


    Menjadi ramah sangat mudah. Tergantung apakah kita mau atau tidak. 



Terima kasih kiriman fotonya, drh. Nophi P Ramadhani dari klinik Animalia Vetcare. Jl. Ahmad Dahlan 45 Jember - Jawa Timur. 

Sunday, November 22, 2020

Menjadi Pembicara Melalui Daring

Pertemuan Daring pun Ada Etikanya

    Jarum panjang berada di angka sebelas dan jarum pendek mendekati angka dua belas. Santi terkejut lalu buru-buru mencari kerudung. Akan tetapi ia tidak menemukannya. Akhirnya, ia comot begitu saja mukena bagian atas dan memakainya selayaknya kerudung. Merasa sudah pantas, akhirnya ia nyalakan laptop dan memulai pengajaran melalui daring.

    "Ada kelas, Ma?" tanya putri sulung Santi.

    "Iya. Satu jam saja, kok."

    "Nggak pakai bedak atau apa gitu? cuma begitu saja? Mau aku ambilkan jilbab yang agak bagus?"

    "Nggak usah. Begini saja. Nggak kelihatan."

    Penasaran dengan kegiatan mamanya, si sulung mengamati dari tempatnya belajar. Beberapa kali ia pergoki mamanya sedikit panik menjawab pertanyaan mahasiswa. Tergesa-gesa mengambil buku tebal di atas lemari, lalu dengan kasar membuka halaman demi halaman. 

    "Mama nggak asyik," gumam si sulung. 

    Ah ya!

  Zaman sekarang memang zaman daring, teman-teman. Pembelajaran, perkuliahan lebih banyak dilakukan melalui daring, bukan luring. Apakah ini membuat kita tidak perlu melakukan persiapan ketika kita harus berbicara? Entah sebagai pembicara atau sebagai peserta.

    Yuk kita jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Mana yang lebih membuat kita bersemangat melakukan sesuatu? Apakah ketika kita melakukan sesuatu setelah membasuh wajah, memakai bedak atau justru ketika kita lusuh berkeringat?
  2. Mana sih yang lebih kita sukai, apakah ketika kita rapi, cantik dan wangi atau kita yang gerah berkeringat dan asal-asalan berpakaian?
  3. Mana yang lebih membuat kita nampak bisa dipercaya, apakah kita yang menjelaskan dengan terbata-bata sambil membolak-balik halaman buku atau kita yang lancar dan tenang ketika menjawab?
    Tiga pertanyaan itu semoga cukup menjawab, apakah kita masih perlu melakukan well prepare ketika menyampaikan materi atau berbicara melalui daring?

    Usai kelas itu, Santi mengumpat gara-gara satu mahasiswanya hanya mengenakan kaus tanpa kerah. Si sulung yang kebetulan mendengar umpatan mamanya, langsung menyeletuk,"Bagaimana dengan mama?"

    Santi terdiam. Ia menyadari hanya mengenakan daster dan mukena bagian atas. 

Friday, November 20, 2020

Public Speaking di Ruang Meeting

Public Speaking di Ruang Meeting


    Pernah merasa sebal gara-gara peserta meeting sibuk dengan ponselnya sehingga tidak memperhatikan kita sebagai pembicara? Sebaiknya tidak buru-buru menyalahkan mereka. Yuk kita instropeksi. Jangan-jangan kita sebagai pembicara juga menularkan aura mengantuk. Mengapa bisa begitu? 

    Mari kita membuat check list :

  1. Apakah cara bicara kita kurang menarik?
  2. Apakah intonasi yang kita gunakan biasa-biasa saja, bahkan cenderung datar?
  3. Apakah kita sibuk dengan materi tanpa peduli rekan bicara di ruang meeting?
  4. Apakah kita tidak menyampaikan materi secara runut?
  5. Apakah kita terlalu fokus dengan slide kita?
  6. Apakah kita terlalu lama berbicara?
  7. Apakah kita tidak menyelipkan beberapa joke?
    Jika jawaban kita ternyata lebih banyak "Ya", besar kemungkinan kita memang menebarkan "Aura mengantuk" di dalam ruang meeting.
    Bagaimana jika suatu saat kita sulap penampilan kita ketika menyampaikan materi atau ide di ruang meeting? Pasti akan terlihat lebih segar jika kita melakukan touch up pada riasan sebelum masuk ruang meeting. Apalagi jika meetingnya dilakukan setelah jam kerja. Sebaiknya kita mencari tahu bagaimana tehnik menyampaikan materi. Kita batasi pesan agar tidak bertele-tele. Pastikan juga intonasi kalimat kita tidak datar dan membosankan. 
    Jika teman-teman punya tips agar suasana meeting lebih menyenangkan, yuk tulis saja di kolom komentar. 
    Selain menerapkan trik public speaking di ruang meeting, teman-teman Manajemen City of Tomorrow Surabaya selalu menyediakan jajanan supaya tidak mengantuk. Terima kasih kiriman fotonya. 


ikuti juga ig @ispeak2013 dan FP i Speak ! by idah ernawati.

Silahkan mengirimkan foto aktivitas di kantor teman-teman dan dapatkan special rate untuk in house training. 
 

Wednesday, November 4, 2020

Perlukah Menerapkan Public Speaking Skill Sesama Rekan Kerja

    
Pertemanan dan Public speaking

    Masih banyak yang berpikir bahwa kemampuan public speaking hanya diperlukan jika kita sedang berbicara resmi di panggung atau ketika sedang memegang microphone. Padahal, kemampuan ini sungguh sangat diperlukan dalam keseharian. Di mana pun, siapa pun rekan bicara, kapan pun kita berbicara sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip public speaking. Tidak peduli berapa jumlah rekan bicaranya. 
    Kita semua pasti menyukai mereka yang mengucapkan "terima kasih" dengan cara yang baik. Mungkin dengan wajah yang tersenyum dan tatapan mata yang memang tertuju kepada kita. Itu membuktikan ucapan terima kasihnya benar-benar tulus. 
    Ketika pimpinan memimpin rapat, kita pasti akan menyukai jika beliau menyampaikan materi dengan cara yang menarik, intonasinya tidak datar. Itu menunjukkan beliau antusias. Kita yang mendengarkan juga tidak akan bosan dan mengantuk.
  Dua contoh kasus itu membuktikan perlunya menerapkan prinsip-prinsip public speaking dalam keseharian. Terutama dalam keseharian bersama rekan kerja. Kalau semua rekan kerja kita menerapkannya, dijamin suasana kantor dan pertemanan akan lebih asyik. Supaya lebih asyik lagi, sesekali pakai dress code. Seperti tim dari PT. Agrinusa Jaya Santosa ini. 
    Silahkan komentar, teman seperti apa yang mengasyikkan itu? 


Terima kasih kepada sahabat dari PT. Agrinusa Jaya Santosa untuk kiriman fotonya. Sahabat-sahabat saya yang lain, boleh juga mengirimkan foto yang menggambarkan working life anda. Kirim melalui email ke ernawatiidah@gmail.com. Jika kantor/ instansi tempat kerja para sahabat akan mengadakan in house training, pasti akan ada diskon spesial.

 
Ikuti juga IG ispeak2013 dan FP i Speak  by idah ernawati. 

Tuesday, November 3, 2020

Berbicara dengan Mereka yang Kita Anggap Lebih

Public Speaking Skill meningkatkan karir
 

   Pasti kita pernah mengalami deg deg an, bingung ketika ada jadwal bertemu dengan seseorang yang kita anggap "lebih". Lebih pandai, sekolahnya lebih tinggi dibanding kita, lebih tua usianya dibanding kita,  lebih populer, lebih memiliki jabatan dan "lebih-lebih" yang lain. Sangat wajar jika rasa itu menyerang kita. Biasanya ini membuat rasa percaya diri kita menjadi menurun. 

    Satu hal yang harus kita pahami, kita dan mereka yang spesial itu, adalah sama. Sama-sama menghirup oksigen yang molekulnya O2. Sama-sama makan nasi, kalau dia tidak sedang berdiet ya. Pokoknya yang harus kita tekankan di otak kita adalah kita dan mereka yang kita anggap "lebih" itu sejajar. Merasa sejajar ini sangat penting agar rasa percaya diri

tidak turun bahkan sampai ke titik nadir. Menganggap diri kita sejajar, bukan lantas membuat kita menjadi tidak sopan. Sopan dan ramah adalah kunci utama untuk bisa diterima dimana saja, oleh siapa saja. Harus kita sadari, menjadi sopan dan ramah tentu saja merupakan bentuk penghargaan kita untuk diri sendiri. Orang lain akan mendapat bonus dari sikap sopan dan ramah kita. 

    Ada banyak tips yang bisa kita lakukan dalam rangka sopan dan ramah, ketika menghadapi rekan bicara yang kita anggap "lebih". Misalnya, tidak sok pintar, tidak sok menggurui. Siapa pun pasti malas jika bertemu dengan orang yang sok pintar dan sok menggurui, bukan?

    Yuk, saya ajak para sahabat untuk menuliskan masukan tips, bagaimana menghadapi seseorang atau rekan bicara yang kita anggap "lebih". Semoga tips itu bisa kita terapkan dalam keseharian kita. 

    Asah terus kemampuan kita ber-public speaking. 


Terima kasih kepada sahabat Panin Kediri atas kiriman fotonya. Silahkan sahabat lain mengirimkan foto yang menunjukkan working life. Kirim melalui email ke ernawatiidah@gmail.com. Kantor/ instansi para sahabat akan mendapat special rate untuk pelatihan in house training. 

Untuk tips yang lain, ikuti ig ispeak2013 dan FP i Speak  by idah ernawati.

Tuesday, October 13, 2020

Anak Emas Jago Public Speaking

Cara berbicara harus menarik


    Pernah merasa iri dengan rekan kerja yang sepertinya sangat dimanja atasan? Ide-idenya sebetulnya selalu sederhana, tetapi sering didengar? Dari pada iri berkepanjangan yang tidak baik bagi kesehatan, yuk cari tahu apa yang dilakukan si anak emas ini. 
    Ada beberapa pertanyaan yang bisa kita jawab dengan ya atau tidak.

  1. Apakah caranya berbicara menarik?
  2. Apakah dia tipe yang mudah bergaul?
  3. Apakah dia tipe yang banyak wawasan?
  4. Apakah dia enak diajak mengobrol?
  5. Apakah secara penampilan, dia selalu rapi?
  6. Apakah dia sopan dan mengerti etika?
  7. Apakah dia ekspresif ketika berbicara?
  8. Apakah dia pendengar yang baik?
    

    Jika memang jawaban sahabat lebih banyak "Ya", maka bisa dipastikan si anak emas ini memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni. Disadari atau tidak, kemampuan public speaking sangat menunjang karier seseorang. Segala profesi, semua pekerjaan, apa pun posisinya, membutuhkan kemampuan public speaking.
    Banyak yang beranggapan kemampuan public speaking adalah bakat. Sebagian besar juga berpikiran mereka yang memiliki kemampuan public speaking adalah yang ekstrovert. Bukan mereka yang introvert. Padahal, Obama dan Bill Gates termasuk introvert. Kita semua mengetahui, mereka juga jago berbicara di depan banyak rekan. Jadi, public speaking bukan tentang mengubah introvert menjadi ekstrovert. Bukan tentang pemalu atau pendiam. Ini tentang bagaimana seseorang mampu berbicara, mampu menyampaikan ide dengan cara yang menarik. 
      Kenali public speaking skill, Miliki kemampuan berbicara yang menarik. Semua pasti bisa. 


Terima kasih sahabat  Panin Kediri untuk kiriman fotonya.
Silahkan sahabat yang lain, bisa mengirimkan foto-foto yang menunjukkan working life . Kirim melalui email ke ernawatiidah@gmail.com.
Ikuti juga tips yang lain di ig ISPEAK2013 dan FP i Speak ! by Idah Ernawati. 

Sunday, October 4, 2020

Mudah jadi megah.

    


     Kopi di cangkirku sudah habis. Bersamaan dengan selesainya naskahku. Rasa lega memenuhi dada. Setelah hampir tiga bulan, aku berkutat dengan laptop, melakukan survei kecil-kecilan, melalui writer's block berkali-kali, akhirnya tuntas juga pekerjaan ini. Aku men shut down laptop, menutupnya dengan rasa bangga. Seolah-olah di dalam hatiku ada yang berteriak "Aku kalahkan kamu!"
     Pandanganku pada kegiatan menulis ini, berubah-ubah. Awalnya kupikir ini sesuatu yang ribet bin njelimet. Menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan? Yang benar saja! Papa mamaku, kakek nenekku, ibunya nenekku, neneknya nenekku pokoknya dalam sejarah keluargaku, tidak ada yang menjadi penulis. Tetapi, ketika mataku menengok tumpukan koleksi buku, aku langsung berpikir, jika mereka bisa, mengapa aku tidak? Lagi pula, ini pekerjaan menulis, lho! me-nu-lis! Bangun tidur, aku menulis meski hanya pesan di whatsapp. Aku menuangkan pertanyaan yang ada di kepala dalam bentuk tulisan, lalu kukirim kepada papaku, atau abang dan adikku. Ya, hanya sekadar menyapa "Apa kabar?". Tetapi bagaimanapun, itu tulisan. Agak siang sedikit, aku menulis, meski hanya status di media sosial. Berapa media sosial? Tiga! twitter, facebook, instagram. Sependek apapun tulisanku, tetaplah tulisan. Deretan huruf  yang mewakili pikiran. Jadi, harusnya menulis itu gampang. Seharusnya sudah jadi darah daging. 
    Menulis itu mudah, meski memang sesekali akan  tertatih-tatih. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Jangan jadikan itu masalah. Madam J.K.  Rowling pun pasti pernah lelah. Tetapi tetap ia melangkah mencipta naskah. Jadi, ayo tuangkan ide sederhana kita, jadikan tulisan yang megah.  

Ramah itu Mudah

   customer is a king           Pernah menemui dokter yang tidak ramah? Pintar tetapi pelit bicara? Kita yang bertanya merasa sudah melakuka...