Kopi di cangkirku sudah habis. Bersamaan dengan selesainya naskahku. Rasa lega memenuhi dada. Setelah hampir tiga bulan, aku berkutat dengan laptop, melakukan survei kecil-kecilan, melalui writer's block berkali-kali, akhirnya tuntas juga pekerjaan ini. Aku men shut down laptop, menutupnya dengan rasa bangga. Seolah-olah di dalam hatiku ada yang berteriak "Aku kalahkan kamu!"
Pandanganku pada kegiatan menulis ini, berubah-ubah. Awalnya kupikir ini sesuatu yang ribet bin njelimet. Menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan? Yang benar saja! Papa mamaku, kakek nenekku, ibunya nenekku, neneknya nenekku pokoknya dalam sejarah keluargaku, tidak ada yang menjadi penulis. Tetapi, ketika mataku menengok tumpukan koleksi buku, aku langsung berpikir, jika mereka bisa, mengapa aku tidak? Lagi pula, ini pekerjaan menulis, lho! me-nu-lis! Bangun tidur, aku menulis meski hanya pesan di whatsapp. Aku menuangkan pertanyaan yang ada di kepala dalam bentuk tulisan, lalu kukirim kepada papaku, atau abang dan adikku. Ya, hanya sekadar menyapa "Apa kabar?". Tetapi bagaimanapun, itu tulisan. Agak siang sedikit, aku menulis, meski hanya status di media sosial. Berapa media sosial? Tiga! twitter, facebook, instagram. Sependek apapun tulisanku, tetaplah tulisan. Deretan huruf yang mewakili pikiran. Jadi, harusnya menulis itu gampang. Seharusnya sudah jadi darah daging.
Menulis itu mudah, meski memang sesekali akan tertatih-tatih. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Jangan jadikan itu masalah. Madam J.K. Rowling pun pasti pernah lelah. Tetapi tetap ia melangkah mencipta naskah. Jadi, ayo tuangkan ide sederhana kita, jadikan tulisan yang megah.

Kereeen. Sudah enak sekali dibaca tulisannya. Ide-idenya sudah mengalir dan teratur. Teruskan ya, Mbak. Hanya perlu memperbaiki beberapa poin saja nanti. Kita akan pelajari pada materi berikutnya besok, ya? Keep writing!
ReplyDeleteKak Idah bukan cuma suaranya yang enak didengar karena intonasinya, tulisannya pun mengalir dengan ritme yang khas. Kayanya kak Idah banget gitu.
ReplyDeleteSeneng lihat tulisannya kak Idah, looking forward to more~
Bagus...
ReplyDeleteLanjutkan
Tulisan di postingan ini, saya pertahankan untuk tidak dihapus. Sebagai kenang-kenangan dan penghargaan untuk guru saya, Maria Magdalena dan Raihana Mahmud.
ReplyDelete