| Pertemuan Daring pun Ada Etikanya |
Jarum panjang berada di angka sebelas dan jarum pendek mendekati angka dua belas. Santi terkejut lalu buru-buru mencari kerudung. Akan tetapi ia tidak menemukannya. Akhirnya, ia comot begitu saja mukena bagian atas dan memakainya selayaknya kerudung. Merasa sudah pantas, akhirnya ia nyalakan laptop dan memulai pengajaran melalui daring.
"Ada kelas, Ma?" tanya putri sulung Santi.
"Iya. Satu jam saja, kok."
"Nggak pakai bedak atau apa gitu? cuma begitu saja? Mau aku ambilkan jilbab yang agak bagus?"
"Nggak usah. Begini saja. Nggak kelihatan."
Penasaran dengan kegiatan mamanya, si sulung mengamati dari tempatnya belajar. Beberapa kali ia pergoki mamanya sedikit panik menjawab pertanyaan mahasiswa. Tergesa-gesa mengambil buku tebal di atas lemari, lalu dengan kasar membuka halaman demi halaman.
"Mama nggak asyik," gumam si sulung.
Ah ya!
Zaman sekarang memang zaman daring, teman-teman. Pembelajaran, perkuliahan lebih banyak dilakukan melalui daring, bukan luring. Apakah ini membuat kita tidak perlu melakukan persiapan ketika kita harus berbicara? Entah sebagai pembicara atau sebagai peserta.
Yuk kita jawab pertanyaan-pertanyaan ini:
- Mana yang lebih membuat kita bersemangat melakukan sesuatu? Apakah ketika kita melakukan sesuatu setelah membasuh wajah, memakai bedak atau justru ketika kita lusuh berkeringat?
- Mana sih yang lebih kita sukai, apakah ketika kita rapi, cantik dan wangi atau kita yang gerah berkeringat dan asal-asalan berpakaian?
- Mana yang lebih membuat kita nampak bisa dipercaya, apakah kita yang menjelaskan dengan terbata-bata sambil membolak-balik halaman buku atau kita yang lancar dan tenang ketika menjawab?
Usai kelas itu, Santi mengumpat gara-gara satu mahasiswanya hanya mengenakan kaus tanpa kerah. Si sulung yang kebetulan mendengar umpatan mamanya, langsung menyeletuk,"Bagaimana dengan mama?"
Santi terdiam. Ia menyadari hanya mengenakan daster dan mukena bagian atas.

