Tuesday, October 13, 2020

Anak Emas Jago Public Speaking

Cara berbicara harus menarik


    Pernah merasa iri dengan rekan kerja yang sepertinya sangat dimanja atasan? Ide-idenya sebetulnya selalu sederhana, tetapi sering didengar? Dari pada iri berkepanjangan yang tidak baik bagi kesehatan, yuk cari tahu apa yang dilakukan si anak emas ini. 
    Ada beberapa pertanyaan yang bisa kita jawab dengan ya atau tidak.

  1. Apakah caranya berbicara menarik?
  2. Apakah dia tipe yang mudah bergaul?
  3. Apakah dia tipe yang banyak wawasan?
  4. Apakah dia enak diajak mengobrol?
  5. Apakah secara penampilan, dia selalu rapi?
  6. Apakah dia sopan dan mengerti etika?
  7. Apakah dia ekspresif ketika berbicara?
  8. Apakah dia pendengar yang baik?
    

    Jika memang jawaban sahabat lebih banyak "Ya", maka bisa dipastikan si anak emas ini memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni. Disadari atau tidak, kemampuan public speaking sangat menunjang karier seseorang. Segala profesi, semua pekerjaan, apa pun posisinya, membutuhkan kemampuan public speaking.
    Banyak yang beranggapan kemampuan public speaking adalah bakat. Sebagian besar juga berpikiran mereka yang memiliki kemampuan public speaking adalah yang ekstrovert. Bukan mereka yang introvert. Padahal, Obama dan Bill Gates termasuk introvert. Kita semua mengetahui, mereka juga jago berbicara di depan banyak rekan. Jadi, public speaking bukan tentang mengubah introvert menjadi ekstrovert. Bukan tentang pemalu atau pendiam. Ini tentang bagaimana seseorang mampu berbicara, mampu menyampaikan ide dengan cara yang menarik. 
      Kenali public speaking skill, Miliki kemampuan berbicara yang menarik. Semua pasti bisa. 


Terima kasih sahabat  Panin Kediri untuk kiriman fotonya.
Silahkan sahabat yang lain, bisa mengirimkan foto-foto yang menunjukkan working life . Kirim melalui email ke ernawatiidah@gmail.com.
Ikuti juga tips yang lain di ig ISPEAK2013 dan FP i Speak ! by Idah Ernawati. 

Sunday, October 4, 2020

Mudah jadi megah.

    


     Kopi di cangkirku sudah habis. Bersamaan dengan selesainya naskahku. Rasa lega memenuhi dada. Setelah hampir tiga bulan, aku berkutat dengan laptop, melakukan survei kecil-kecilan, melalui writer's block berkali-kali, akhirnya tuntas juga pekerjaan ini. Aku men shut down laptop, menutupnya dengan rasa bangga. Seolah-olah di dalam hatiku ada yang berteriak "Aku kalahkan kamu!"
     Pandanganku pada kegiatan menulis ini, berubah-ubah. Awalnya kupikir ini sesuatu yang ribet bin njelimet. Menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan? Yang benar saja! Papa mamaku, kakek nenekku, ibunya nenekku, neneknya nenekku pokoknya dalam sejarah keluargaku, tidak ada yang menjadi penulis. Tetapi, ketika mataku menengok tumpukan koleksi buku, aku langsung berpikir, jika mereka bisa, mengapa aku tidak? Lagi pula, ini pekerjaan menulis, lho! me-nu-lis! Bangun tidur, aku menulis meski hanya pesan di whatsapp. Aku menuangkan pertanyaan yang ada di kepala dalam bentuk tulisan, lalu kukirim kepada papaku, atau abang dan adikku. Ya, hanya sekadar menyapa "Apa kabar?". Tetapi bagaimanapun, itu tulisan. Agak siang sedikit, aku menulis, meski hanya status di media sosial. Berapa media sosial? Tiga! twitter, facebook, instagram. Sependek apapun tulisanku, tetaplah tulisan. Deretan huruf  yang mewakili pikiran. Jadi, harusnya menulis itu gampang. Seharusnya sudah jadi darah daging. 
    Menulis itu mudah, meski memang sesekali akan  tertatih-tatih. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Jangan jadikan itu masalah. Madam J.K.  Rowling pun pasti pernah lelah. Tetapi tetap ia melangkah mencipta naskah. Jadi, ayo tuangkan ide sederhana kita, jadikan tulisan yang megah.  

Monday, September 28, 2020

Tebak siapa yang akan terpilih

     


   

 


 

    Secangkir kopi yang dibuatkan office boy, sudah  tandas. Menandai kelegaan karena keputusan  berhasil dibuat. Dhryan, sang pimpinan, beberapa waktu  lalu sempat bingung. Ia harus memilih satu dari sekian banyak stafnya untuk dipromosikan menjadi pimpinan cabang. Setelah melakukan seleksi, akhirnya ia mendapat dua kandidat. Reiner dan Hilda. 

    Kedua kandidat itu sama pintarnya. Tentu saja nilai yang sama itu membuat Dhryan bingung. Ia pun memanggil Reiner dan Hilda secara bergantian. Mengobrol ini itu dan meminta masing-masing menyampaikan ide untuk mengembangkan perusahaan. Hasilnya :

  1. Hilda, terkenal sangat periang. Banyak bicaranya. Pimpinan mengeluarkan lima kata, Hilda bisa menjawab dengan puluhan kata. Ketawanya sangat lepas. Di kaca mata Dhryan, Hilda terlalu sering membetulkan rambutnya ketika berbicara. Meskipun 'banyak bicara' ternyata Hilda sangat gelagapan ketika harus menyampaikan ide. Terlihat tidak siap. Ketika Dhryan mengajaknya berjabat tangan, telapak Hilda basah. Mungkin ia grogi. 
  2.  Reiner pembawaannya lebih tenang. Meskipun dari luar, nampak pendiam, ternyata Reiner asyik juga ngobrolnya. Ia menceritakan tentang survey lokasi pabrik milik klien. Dhryan mengetahui Reiner tidak banyak bicara dalam keseharian, tetapi ternyata sekali Reiner bicara, caranya sangat menarik. Begitu pun ketika Reiner harus mempresentasikan ide. Dhryan bersemangat mendengarkan. Jabatan tangan Reiner pun mantap ketika berpamitan.

Jadi, siapakah yang dipilih Dhryan untuk mendapat promosi? Silahkan tulis jawaban sahabat di kolom komentar. 

 

 





Ramah itu Mudah

   customer is a king           Pernah menemui dokter yang tidak ramah? Pintar tetapi pelit bicara? Kita yang bertanya merasa sudah melakuka...